Posted by: dexd on: April 1, 2008
Beberapa e-mail dari rekan-rekan pembaca Blog I-I berisi keluhan dan pertanyaan bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang intel. Saya jadi teringat sekitar 20an tahun silam ketika beberapa intel junior dalam komunitas intelijen Indonesia bersenda gurau dan saling bercerita tentang betapa repotnya menjalani tugas sebagai anggota intelijen dalam kehidupan sehari-hari. “Enaknya” pada era Orde Baru adalah bahwa kekuasaan begitu besarnya, sehingga kerisauan intelijen itu hanya sebagai obrolan ringan setelah mendapatkan pelatihan masalah cover yang ideal.
Bagaimanapun juga, seorang intel adalah mahluk sosial dengan berbagai hubungan sosial yang harus dipelihara dengan baik serta dijalani secara normal seperti orang biasa.
Berikut ini, saya berikan beberapa catatan untuk rekan-rekan Blog I-I yang masih risau tentang menjalani kehidupan sebagai individu dan anggota masyarakat sekaligus juga sebagai petugas intelijen.
Pertama mempraktekan prinsip anonim. Seorang petugas intelijen perlu meresapi bahwa keberadaan dirinya yang terkait dengan institusi intelijen adalah tanpa nama. Saya sudah mencontohkan dengan eksistensi Senopati Wirang yang telah mengambil semua identitas, semua ide, semua intelektualitas jati diri saya yang kemudian dipublikasikan ke dalam dunia maya Blog I-I.
Kedua terkait dengan prinsip anonim, apabila sulit dihindari untuk terungkapnya identitas asli kepada keluarga, sahabat/teman, kolega kerja dari institusi lain, maka tidak ada gunanya apabila hal itu ditutup-tutupi dengan kebohongan. Langkah yang perlu ditempuh adalah dengan hanya mengakui adanya keterkaitan dengan institusi intelijen. Misalnya Saya Fulan bekerja di Baintelkam Polri, saya Johnny bekerja di BAIS TNI, saya Budi bekerja di Intelijen Imigrasi, saya Anto bekerja di BIN, saya Agus bekerja di Intelijen Kejaksaan Agung, dst. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa informasi itu tidak tersebar lagi lebih luas dengan meminta perhatian pihak yang sudah tahu. Lebih dari itu, misi utama, kegiatan, serta keahlian khusus anda sebagai petugas intelijen tetap dirahasiakan.
Ketiga terkait dengan keahlian khusus yang anda miliki sebagai seorang petugas intelijen, maka ada saat-saat dimana anda mendapat pelatihan/training. Sejumlah metode pelatihan adalah bersifat terbuka dan merupakan keahlian dasar yang wajib diketahui oleh seorang intel. Namun ada pelatihan yang sangat khusus yang sangat sensitif yang langsung terkait dengan pekerjaan anda, hal yang semacam ini bukan untuk dipamerkan ataupun diketahui banyak orang di luar organisasi. Sebagai contoh keahlian dalam menggunakan intelligence devices, keterampilan membunuh secara “wajar”, dan keterampilan melakukan trick kotor intelijen. Saya kira rekan-rekan Blog I-I senior akan bisa mengingat siapa saya, karena keterampilan yang saya peroleh di CIA dan Mossad
pada tahun 80-an hanya diikuti oleh sangat sedikit orang. Karena sedikit itulah, maka saya cukup percaya diri akan kerahasiaan yang akan selalu melindungi.
bagai mana menjadi anggota intel polri
Juni 12, 2008 pada 7:33 pm
anda se-angkatan dengan very pelenkahu dan kawan2? 80-an dilatih mossad di cipayung ya?